About Us

The lndonesian Catholic Communily of Perth (ICCP) – formerly known as WAICC – Western Australia Indonesian Catholic Community (founded on 29th November 1992) is a public association of Christ’s faithful of diocesan right canonically erected in 2014 with public juridical personality by the Most Rev. Timothy Costelloe SDB, Archbishop of Perth This association laying a firm foundation for unifying, deepening and strengthening the Catholic faith amongst the Catholic Indonesian population of Perth, Western Australia.

Accordingly, ICCP aim to provide: some understanding of the local culture and customs to Catholic lndonesian newcomers to Perth and introduce them to local parishes; maintain an awareness of the lndonesian cultural heritage in the present day and for the sake of future generations; and support the Catholic faith development of lndonesian students studying in Perth, in this way doing their part to evangelise within the wider society of Perth in accordance with the spirit of Christifideles laici, the Post- Synodal Apostolic Exhortation of St. John Paul ll, on the vocation and mission of the lay faithful in the world of today.

Click here to see ICCP CONSTITUTION

Click here to see the DECREE ESTABLISHMENT of ICCP by MOST REV TIMOTHY COSTELLOE SDB

 

ICCP WADAH BARU KOMUNITAS KATOLIK INDONESIA DI PERTH

(oleh: Joseph Moeljadi)

Pendahuluan

Sesudah melalui proses yang agak panjang ICCP (Indonesian Catholic Community of Perth) diakui resmi oleh Archbishop Timothy Costello dengan Decree of Approval pada tanggal 27 Juli 2014. ICCP sebagai suatu ‘public association of Christ faithful’ dengan hak keuskupan sesuai dengan hukum Kanon, sebagai penerus WAICC yang lama yang berstatus private association yang diresmikan pengakuannya pada tanggal 12 Maret 2003 oleh Archbishop James Barry Hickey pada waktu itu. ICCP memiliki konstitusi yang merupakan revisi dari konstitusi WAICC yang terdahulu dengan organisasi dengan struktur dan lingkup aktivitas yang sama.

WAICC sendiri sudah berdiri pada awalnya sebagai de-facto private lay association pada tahun 1992. Dari namanya sudah jelas bahwa WAICC / ICCP itu mewakili sebagian besar komunitas katolik Indonesia yang bertempat tinggal di wilayah keuskupan Agung Perth.

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa suatu lay association (perkumpulan orang awam) ini adalah bentuk yang yang paling sesuai bagi wadah kegiatan umat Katolik awam di keuskupan agung Perth ini dan bukan organisasi lain seperti paroki atau jenis organisasi kerohanian lain.

Associations of Christ’s Faithful (Asosiasi-asosiasi Kaum Beriman Kristen)

Suatu Association of Christ’s Faithful adalah suatu organisasi keagamaan (religious organization) yang didirikan oleh orang yang beriman Kristus (christifideles).

Asosiasi kaum beriman ini ada yang anggautanya orang clergy ada pula yang orang awam. Untuk membicarakan hal ini lebih jauh, maka perlu diberi penjelasan tentang apa itu orang beriman?

Ada dua (2) jenis Orang Beriman:

  1. Laici : Laici (lay people, laity) adalah kita-kita ini orang awam. Termasuk juga biarawan / biarawati, untuk membedakan dengan awam biasa, disebut juga kaum religius, misalnya suster-suster, frater, bruder, yang tidak pernah ditahbiskan (ordained) dan bukan anggauta hirarki gereja. Mereka hanya mengucapkan kaul (vow) saja dan itu tidak sama dengan ditahbiskan.
  2. Clergy (Klerus): Adalah Imam yang ditahbiskan. Mereka itulah yang berada dalam hirarki. Hanya kaum pria yang menjadi clergy. Ada dua macam Clergy:
    1. Clergy Regular (clerici regulares): yaitu kaum clergy yang menjadi anggot suatu ordo atau konggregasi religius seperti Jesuit, Fransiskan, Dominikan,       Karmelit dan sebagainya (“Regular” berarti hidup di bawah peraturan biara atau biarawan). Mereka juga disebut ‘religious priest”. Biarawati bukan termasuk clergy melainkan kaum religius.
    2. Clergy Secular (clerici secularis): yaitu kaum clergy yang langsung berada dibawah Uskup dalam diocesis nya (keuskupan). Mereka juga disebut ‘diocesan priest’ atau ‘imam praja’ (“Secular” berarti hidup di dunia).

Ada dua jenis Association of Christ’s Faithful yaitu: Clerical Association dan Lay Association.

Clerical Association

Asosiasi kaum beriman kristen yang dipimpin oleh kaum Clergy disebut Clerical Association (asosiasi klerus) (Hukum Kanon 302). Karena tulisan ini hanya mengenai asosiasi kaum awam, maka tentang jenis asosiasi ini tidak dibicarakan disini.

Lay Association of Christ’s Faithful (Asosiasi Kaum Awam Beriman Kristen)

Mengenai peranan kaum awam dapat disebut disini:

  • Pada umumnya orang awam beriman (lay people) harus melihat bahwa dirinya dalam hal kemuliaan sederajat dengan anggauta hirarki. “Umat Allah adalah satu……sebagai anggauta mereka memperoleh kemuliaan yang sama ketika lahir kembali dalam Kristus.” (Konstitusi Dogmatis ttg. Gereja 30). “Semua yang dikatakan tentang Umat Allah ditujukan sederajat kepada kaum awam, religius, dan clergy. “ (Konst.Dogm.Ger. 32, Christifideles Laici 2).
  • Orang awam beriman melaksanakan kerasulan awam di dalam masyarakat sekuler. Kaum awam di dalam Gereja memiliki kemampuan yang lebih baik daripada kaum clergy untuk menghidupkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mem-promosi nilai-nilai keluarga (Christ.Laici 49) dan masyarakat yang adil (Dekrit ttg. Kerasulan Awam 9, 14).
  • Para Uskup harus memberi semangat pada kegiatan kerasulan awam (Christ.Laici 25).
  • Para imam dan kaum awam harus dapat bekerja sama (Konst.Dogm.Ger. 37, Ker.Awam 10, Christ.Laici 31).      

Adanya fenomena bertambah pesatnya jumlah asosiasi-asosiasi kaum beriman awam dan tidak adanya kriteria objektif yang memberikan legitimasi pada asosiasi itu, maka paus Johannes Paulus II dalam pesan apostolik “Christifideles Laici menyusun daftar lima ‘ciri eklesialitas’ (ciri kegerejaan) yang harus dimiliki asosiasi itu:

  1. Keutamaan menghayati setiap kekudusan Kristiani
  2. Tanggung jawab dalam pelaksanaan iman Katolik
  3. Saksi dalam hubungan yang kuat dan otentik dengan Paus dan Uskup setempat
  4. Keseragaman tujuan dan partisipasi dalam kegiatan kerasulan awam.
  5. Keterlibatan dalam menciptakan masyarakat yang manusiawi

Jika orang awam beriman dalam suatu komunitas Kristus berkumpul dan mau mendirikan suatu perkumpulan (association) dengan tujuan terutama melakukan kerasulan awam, maka ciri2 perkumpulan itu pada umumnya adalah:

  • Tidak mempunyai Kaul Kemiskinan
  • Tidak mempunyai syarat Selibat (tidak kawin)
  • Tidak ada keharusan untuk hidup bersama
  • Perkumpulan tersebut lalu disebut sebagai: Lay Association of Christ’s Faithful  (Asosiasi Kaum Awam Beriman Kristen).

Jelaslah sekarang bahwa Lay Association adalah bentuk organisasi yang paling cocok untuk mewakili seluruh kaum beriman dalam komunitas Katolik di Perth yang ingin melakukan kegiatan kerasulan awam.

Jenis-jenis Lay Association of Christ’s Faithful

Lay Association ada empat jenis, yaitu: non-canonical, private, public dan Ordo Ketiga (Third Order).

Apakah sifat, hak dan kewajiban dari keempat jenis lay association itu?

  1. Non – Canonical Association (atau: de facto private association)
    • Hak fundamental kaum beriman untuk ber-asosiasi demi keseragaman dengan kehidupan Kristiani dapat dilaksanakan tanpa kewajiban tunduk pada hukum Kanon tentang asosiasi kaum beriman, kecuali asosiasi itu ingin memperoleh status private atau public association.
    • Perkumpulan ini didirikan oleh kaum awam beriman didalam wilayah suatu keuskupan dan diizinkan melakukan kegiatan kerasulan awam, tetapi belum mendapat pengakuan resmi dari uskup setempat.
    • Keberadaannya diakui secara de facto oleh Otoritas Gereja, tetapi tidak berstatus hukum Kanonik.
    • Punya Anggaran Dasar (Constitution) atau tidak punya juga tidak masalah. Kalau pun punya, maka Constitution mereka tidak harus ditinjau oleh hirarki Gereja setempat.
    • Bisa berstatus hukum (incorporated) atau tidak berstatus hukum.
    • Meskipun status suatu asosiasi belum diakui sah, itu tidak berarti perkumpulan ini berada diluar pengawasan dan intervensi Otoritas Gereja. Kaum beriman baik perorangan maupun bersama dalam asosiasi tetap harus memperhatikan Kebaikan Bersama dalam Gereja (Kanon 223).
    • Tidak ada kewajiban melaporkan kegiatannya ke Otoritas Gereja, tetapi dalam prakteknya laporan mengenai kegiatan kerohanian, kerasulan awam dan keuangan selalu diberikan dan diharapkan oleh keuskupan setempat.
    • Tidak ada kewajiban menerima kunjungan Otoritas Gereja, tetapi dalam prakteknya selalu ada kunjungan dari anggauta hirarki setempat untuk menghadiri atau memimpin acara-acara penting keagamaan.
    • Tidak diperbolehkan memakai nama “Katolik”Contoh non-canonical association adalah keadaan WAICC tahun 1992 – 2003, sudah melakukan kegiatan kerohanian dan sosial, keistimewaannya meskipun sudah memakai nama “Katolik”, tetapi belum mendapat pengakuan dari keuskupan Perth.Contoh lain adalah Chinese Catholic Community of Perth (PCCC) yang ketika itu juga belum diakui oleh keuskupan agung Perth
  2. Private Association of Christ’s Faithful
    • Asosiasi ini didirikan oleh kaum awam beriman (Kanon pasal 299
    • Anggaran Dasarnya sudah ditinjau dan kemudian diakui oleh Otoritas Gereja setempat dan didirikan menurut hukum Kanon (Kanon pasal 321-326)
    • Tunduk pada Hak dan Kewajiban yang diatur dalam hukum Kanon
    • Di bawah pengawasan dan intervensi Otoritas Gereja setempat
    • Bebas memilih seorang penasehat rohani atau chaplain diantara imam-imam yang dengan sah melayani umat didalam wilayah keuskupan, tetapi harus mendapat persetujuan uskup.
    • Menerima kunjungan pihak Otoritas Gereja setempat (Kanon pasal 305)
    • Diperbolehkan memakai nama “KatolikContoh Private Association adalah:
      WAICC tahun 2003 – 2014
      PCCC (Perth Catholic Chinese Community) saat ini
      KKI – Melbourne
      WKICU (Warga Katolik Indonesia California Utara, USA)
  1. Public Association of Christ’s Faithful
    • Asosiasi ini didirikan oleh Otoritas Gereja (Kanon pasal 301)
    • Diberi status Juridic Personality (badan juridis)
    • Diberi suatu Canonic Mission (Misi Kanonik) yang sesuai dengan misi keuskupan setempat
    • Anggaran Dasarnya diakui oleh Otoritas Gereja setempat (Kanon pasal 312 -320)
    • Berfungsi dibawah Otoritas Gereja
    • Chaplain yang melayani anggauta-anggauta asosiasi ditunjuk dan diangkat oleh Otoritas Gereja setempat.
    • Diperbolehkan memakai nama “Katolik”Contoh Public Lay Association adalah:
      ICCP yang disahkan Konstitusinya pada tgl. 27 Juli 2014
      Flame Ministries International (pimpinan Eddie Russell)
  1. Third Order atau Ordo Ketiga
    • Asosiasi ini mempunyai affiliasi dengan suatu komunitas religius misalnya ordo Fransiskan, Karmelit, yang disebut Ordo Pertama darinya (Kanon pasal 303) yang anggauta-anggautanya terdiri dari orang awam yang ber-devosi seperti Ordo Pertama nya.
    • Status-nya diakui oleh Otoritas Gereja setempatJelaslah sekarang bahwa suatu Lay Association adalah bentuk organisasi yang paling sesuai yang mewakili seluruh komunitas Katolik di Perth untuk melakukan kegiatan kerasulan awam.

Bagaimana dengan ICCP

Karena ICCP adalah Public Association of Christ’s Faithful, maka jelaslah batas-batas tentang Hak dan kewajibannya. Lagipula ICCP merupakan kelanjutan dari WAICC yang dahulu, maka secara struktur organisasi maupun visi dan misi nya secara prinsip tidak ada perubahan.

HAK

  1. Dalam perayaan Misa-misa berbahasa Indonesia dengan kapasitas-nya sebagai pembantu melancarkan penyelengaraan Misa bagi kesejahteraan rohani anggauta ICCP dan masyarakat Indonesia yang lebih luas (Konstitusi ICCP Pasal 4).
  2. Hak melakukan segala kegiatan yang mendukung kegiatan gerejani.
  3. Hak otonom dalam kerja-sama dengan chaplain, untuk mencapai tujuan yang menguntungkan bagi seluruh Umat Katolik Indonesia di Perth.
  4. Hak mengelola keuangan secara mandiri.
  5. Berstatus badan hukum (incorporated).

KEWAJIBAN

  1. Wajib melaporkan semua kegiatan kepada Otoritas Gereja setempat
  2. Tunduk pada semua peraturan yang ditentukan oleh Otoritas Gereja setempat.

AKIBAT DARI HAK DAN KEWAJIBAN TERSEBUT DI ATAS ITULAH, MAKA ICCP DALAM SIFATNYA MEMBANTU PENYELENGARAAN MISA-MISA BERBAHASA INDONESIA, ICCP sama seperti WAICC dahulu HARUS MEMPUNYAI LITURGY COMMITTEE, DAN JUGA R.C.I.A. BERBAHASA INDONESIA.

HARUS DI-INGAT SELALU, ICCP BUKAN PARISH, MAKA BADAN PENGURUS ICCP BUKAN PARISH COUNCIL.

Perbedaan Lay Association dan Parish

Berbeda sekali status, bentuk dan sifat serta peran kerja suatu badan pengurus Lay Association dengan Parish Council.

Hanya keuskupan setempat yang berwenang mendirikan sebuah parish . Sebab itu Parish Council hanya sebagai Advisor bagi Parish Priest (Pastor Paroki) sebagai wakil Uskup. Parish Council tidak mempunyai wewenang apapun dalam penyelenggaraan Misa, karena itu dalam penyelenggaraan Misa, Pastor Paroki-lah yang mengadakan Liturgy Committee di bawah panduannya. Demikian pula dengan RCIA di dalam Paroki.

Dewan Paroki (Parish Council) juga tidak mempunyai hak mengelola keuangan, sebab pengelolaannya diatur mandiri oleh Parish Finance Committee.

Jadi semua hak pengelolaan sebuah parish atau paroki adalah hak mutlak Pastor Paroki atau Parish Priest.

Adalah wajar bagi orang awam beriman seperti kita ini tidak memahami akan perbedaan Lay Association dengan Parish (Paroki); lagi pula mayoritas dari kita adalah dibaptis dan dibesarkan dalam keimanan Katholik di satu suasana Paroki di Indonesia, yang pengelolaan Paroki ditangani oleh seorang Pastor Paroki dan dibantu oleh satu dewan penasehat, yang dinamakan Dewan Paroki (Parish Council). Ketidak-jelasan ini tidak hanya pada orang awam saja seperti kita, melainkan juga Pastor pun bisa tidak atau kurang memahami tentang organisasi gereja

Pada umumnya inisiatif pendirian suatu Lay Association berasal dari sekelompok orang beriman dan bukan dari Otoritas Gereja. Perkumpulan ini dapat berdiri secara de-fakto tanpa pengakuan resmi dari Keuskupan setempat atau dapat juga kemudian minta pengakuan jika persyaratan-persyaratan tertentu dipenuhi. Seorang Pastor dapat diangkat oleh Uskup menjadi Chaplain (Kapelan) untuk melayani komunitas yang diwakili Lay Association tsb.

Status Chaplain

Berbeda dengan Pastor Paroki dengan Dewan Parokinya, maka Chaplain sebagai anggauta Clergy secara kanonik tidak diperbolehkan memegang peranan dalam kepengurusan suatu Lay Association (Kanon 567 par.2), tetapi bertugas melakukan kegiatan pelayanan kerohanian dan pastoral bagi para anggauta dan rekan-rekan ICCP, juga keluarga dan sahabat mereka (Konstitusi ICCP pasal 72). Dalam menjalankan tugasnya Chaplain harus mengikuti peraturan keuskupan Perth tentang tugas Chaplain, peraturan Konperensi Keuskupan Australia dan Hukum Kanon.

Liturgy dan RCIA

Pengurus ICCP berhak mendirikan suatu Sub-committee Liturgy dan menunjuk seorang anggauta ICCP untuk menjadi anggauta sub-committee itu ( Konstitusi ICCP pasal 74).

Demikian juga team RCIA-ICCP sebagai bagian dari Sub-committee Liturgy juga dibentuk oleh pengurus ICCP.   Pada hakekatnya team RCIA-ICCP ini adalah merupakan kelanjutan dari RCIA-WAICC yang sudah sejak berdirinya diakui oleh Director of Liturgy & RCIA Office Archdiocese of Perth.

ICCP BUKAN DEVOSI MAUPUN MOVEMENT

ICCP tidak berazaskan pada salah satu devosi, pesekutuan atau movement. Itu semua merupakan bagian dari kegiatan-kegiatannya. Oleh karena itu harus dijaga adanya keseimbangan antara berbagai macam kegiatan, sehingga tidak akan menimbulkan kesan adanya dominasi oleh salah satu kegiatan tertentu atau menjadi eksklusif!

Dengan diperolehnya status ICCP sebagai wadah pemersatu yang mewakili mayoritas umat Katolik Indonesia di Perth, ibarat hanya ada satu pohon saja yang memiliki banyak cabang, maka sudah selayaknyalah kalau segala devosi, persekutuan atau movement, dan mudika sebagai suatu organisasi cabang yang bebas, tetapi berada di dalam ICCP.

Referensi:

  • Makalah “Lay Association” WAICC Leadership Camp 13-14 Februari 2004
  • ICCP Constitution
  • New Commentary on the Code of Canon Law , 2000 edited by John P. Beal, James A. Coriden, Thomas J. Green
  • Code of Canon Law (1983)
  • Christifideles Laici
  • Konstitusi Dogmatis tentang Gereja
  • Dekrit tentang Kerasulan Awam