ICCP wadah baru komunitas Katolik Indonesia di Perth

19 November 2014

(oleh: Joseph Moeljadi)

Pendahuluan

Sesudah melalui proses yang agak panjang ICCP (Indonesian Catholic Community of Perth) diakui resmi oleh Archbishop Timothy Costello dengan Decree of Approval pada tanggal 27 Juli 2014. ICCP sebagai suatu ‘public association of Christ faithful’ dengan hak keuskupan sesuai dengan hukum Kanon, sebagai penerus WAICC yang lama yang berstatus private association yang diresmikan pengakuannya pada tanggal 12 Maret 2003 oleh Archbishop James Barry Hickey pada waktu itu. ICCP memiliki konstitusi yang merupakan revisi dari konstitusi WAICC yang terdahulu dengan organisasi dengan struktur dan lingkup aktivitas yang sama.

WAICC sendiri sudah berdiri pada awalnya sebagai de-facto private lay association pada tahun 1992. Dari namanya sudah jelas bahwa WAICC / ICCP itu mewakili sebagian besar komunitas katolik Indonesia yang bertempat tinggal di wilayah keuskupan Agung Perth.

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa suatu lay association (perkumpulan orang awam) ini adalah bentuk yang yang paling sesuai bagi wadah kegiatan umat Katolik awam di keuskupan agung Perth ini dan bukan organisasi lain seperti paroki atau jenis organisasi kerohanian lain.

Associations of Christ’s Faithful

(Asosiasi-asosiasi Kaum Beriman Kristen)

Suatu Association of Christ’s Faithful adalah suatu organisasi keagamaan (religious organization) yang didirikan oleh orang yang beriman Kristus (christifideles).

Asosiasi kaum beriman ini ada yang anggautanya orang clergy ada pula yang orang awam. Untuk membicarakan hal ini lebih jauh, maka perlu diberi penjelasan tentang apa itu orang beriman?

Ada dua (2) jenis Orang Beriman:

  1. Laici : Laici (lay people, laity) adalah kita-kita ini orang awam. Termasuk juga biarawan / biarawati, untuk membedakan dengan awam biasa, disebut juga kaum religius, misalnya suster-suster, frater, bruder, yang tidak pernah ditahbiskan (ordained) dan bukan anggauta hirarki gereja. Mereka hanya mengucapkan kaul (vow) saja dan itu tidak sama dengan ditahbiskan.
  2. Clergy (Klerus): Adalah Imam yang ditahbiskan. Mereka itulah yang berada dalam hirarki. Hanya kaum pria yang menjadi clergy. Ada dua macam Clergy:
    1. Clergy Regular (clerici regulares): yaitu kaum clergy yang menjadi anggot suatu ordo atau konggregasi religius seperti Jesuit, Fransiskan, Dominikan,       Karmelit dan sebagainya (“Regular” berarti hidup di bawah peraturan biara atau biarawan). Mereka juga disebut ‘religious priest”. Biarawati bukan termasuk clergy melainkan kaum religius.
    2. Clergy Secular (clerici secularis): yaitu kaum clergy yang langsung berada dibawah Uskup dalam diocesis nya (keuskupan). Mereka juga disebut ‘diocesan priest’ atau ‘imam praja’ (“Secular” berarti hidup di dunia).

Ada dua jenis Association of Christ’s Faithful yaitu: Clerical Association dan Lay Association.

Clerical Association

Asosiasi kaum beriman kristen yang dipimpin oleh kaum Clergy disebut Clerical Association (asosiasi klerus) (Hukum Kanon 302). Karena tulisan ini hanya mengenai asosiasi kaum awam, maka tentang jenis asosiasi ini tidak dibicarakan disini.

Lay Association of Christ’s Faithful

(Asosiasi Kaum Awam Beriman Kristen)

Mengenai peranan kaum awam dapat disebut disini:

  • Pada umumnya orang awam beriman (lay people) harus melihat bahwa dirinya dalam hal kemuliaan sederajat dengan anggauta hirarki. “Umat Allah adalah satu……sebagai anggauta mereka memperoleh kemuliaan yang sama ketika lahir kembali dalam Kristus.” (Konstitusi Dogmatis ttg. Gereja 30). “Semua yang dikatakan tentang Umat Allah ditujukan sederajat kepada kaum awam, religius, dan clergy. “ (Konst.Dogm.Ger. 32, Christifideles Laici 2).
  • Orang awam beriman melaksanakan kerasulan awam di dalam masyarakat sekuler. Kaum awam di dalam Gereja memiliki kemampuan yang lebih baik daripada kaum clergy untuk menghidupkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mem-promosi nilai-nilai keluarga (Christ.Laici 49) dan masyarakat yang adil (Dekrit ttg. Kerasulan Awam 9, 14).
  • Para Uskup harus memberi semangat pada kegiatan kerasulan awam (Christ.Laici 25).
  • Para imam dan kaum awam harus dapat bekerja sama (Konst.Dogm.Ger. 37, Ker.Awam 10, Christ.Laici 31).      

Adanya fenomena bertambah pesatnya jumlah asosiasi-asosiasi kaum beriman awam dan tidak adanya kriteria objektif yang memberikan legitimasi pada asosiasi itu, maka paus Johannes Paulus II dalam pesan apostolik “Christifideles Laici menyusun daftar lima ‘ciri eklesialitas’ (ciri kegerejaan) yang harus dimiliki asosiasi itu:

  1. Keutamaan menghayati setiap kekudusan Kristiani
  2. Tanggung jawab dalam pelaksanaan iman Katolik
  3. Saksi dalam hubungan yang kuat dan otentik dengan Paus dan Uskup setempat
  4. Keseragaman tujuan dan partisipasi dalam kegiatan kerasulan awam.
  5. Keterlibatan dalam menciptakan masyarakat yang manusiawi

Jika orang awam beriman dalam suatu komunitas Kristus berkumpul dan mau mendirikan suatu perkumpulan (association) dengan tujuan terutama melakukan kerasulan awam, maka ciri2 perkumpulan itu pada umumnya adalah:

  • Tidak mempunyai Kaul Kemiskinan
  • Tidak mempunyai syarat Selibat (tidak kawin)
  • Tidak ada keharusan untuk hidup bersama
  • Perkumpulan tersebut lalu disebut sebagai: Lay Association of Christ’s Faithful  (Asosiasi Kaum Awam Beriman Kristen).

Jelaslah sekarang bahwa Lay Association adalah bentuk organisasi yang paling cocok untuk mewakili seluruh kaum beriman dalam komunitas Katolik di Perth yang ingin melakukan kegiatan kerasulan awam.

 

Jenis-jenis Lay Association of Christ’s Faithful

Lay Association ada empat jenis, yaitu: non-canonical, private, public dan Ordo Ketiga (Third Order).

Apakah sifat, hak dan kewajiban dari keempat jenis lay association itu?

  1. Non – Canonical Association (atau: de facto private association)
    • Hak fundamental kaum beriman untuk ber-asosiasi demi keseragaman dengan kehidupan Kristiani dapat dilaksanakan tanpa kewajiban tunduk pada hukum Kanon tentang asosiasi kaum beriman, kecuali asosiasi itu ingin memperoleh status private atau public association.
    • Perkumpulan ini didirikan oleh kaum awam beriman didalam wilayah suatu keuskupan dan diizinkan melakukan kegiatan kerasulan awam, tetapi belum mendapat pengakuan resmi dari uskup setempat.
    • Keberadaannya diakui secara de facto oleh Otoritas Gereja, tetapi tidak berstatus hukum Kanonik.
    • Punya Anggaran Dasar (Constitution) atau tidak punya juga tidak masalah. Kalau pun punya, maka Constitution mereka tidak harus ditinjau oleh hirarki Gereja setempat.
    • Bisa berstatus hukum (incorporated) atau tidak berstatus hukum.
    • Meskipun status suatu asosiasi belum diakui sah, itu tidak berarti perkumpulan ini berada diluar pengawasan dan intervensi Otoritas Gereja. Kaum beriman baik perorangan maupun bersama dalam asosiasi tetap harus memperhatikan Kebaikan Bersama dalam Gereja (Kanon 223).
    • Tidak ada kewajiban melaporkan kegiatannya ke Otoritas Gereja, tetapi dalam prakteknya laporan mengenai kegiatan kerohanian, kerasulan awam dan keuangan selalu diberikan dan diharapkan oleh keuskupan setempat.
    • Tidak ada kewajiban menerima kunjungan Otoritas Gereja, tetapi dalam prakteknya selalu ada kunjungan dari anggauta hirarki setempat untuk menghadiri atau memimpin acara-acara penting keagamaan.
    • Tidak diperbolehkan memakai nama “Katolik”Contoh non-canonical association adalah keadaan WAICC tahun 1992 – 2003, sudah melakukan kegiatan kerohanian dan sosial, keistimewaannya meskipun sudah memakai nama “Katolik”, tetapi belum mendapat pengakuan dari keuskupan Perth.Contoh lain adalah Chinese Catholic Community of Perth (PCCC) yang ketika itu juga belum diakui oleh keuskupan agung Perth
  2. Private Association of Christ’s Faithful
    • Asosiasi ini didirikan oleh kaum awam beriman (Kanon pasal 299
    • Anggaran Dasarnya sudah ditinjau dan kemudian diakui oleh Otoritas Gereja setempat dan didirikan menurut hukum Kanon (Kanon pasal 321-326)
    • Tunduk pada Hak dan Kewajiban yang diatur dalam hukum Kanon
    • Di bawah pengawasan dan intervensi Otoritas Gereja setempat
    • Bebas memilih seorang penasehat rohani atau chaplain diantara imam-imam yang dengan sah melayani umat didalam wilayah keuskupan, tetapi harus mendapat persetujuan uskup.
    • Menerima kunjungan pihak Otoritas Gereja setempat (Kanon pasal 305)
    • Diperbolehkan memakai nama “KatolikContoh Private Association adalah:
      WAICC tahun 2003 – 2014
      PCCC (Perth Catholic Chinese Community) saat ini
      KKI – Melbourne
      WKICU (Warga Katolik Indonesia California Utara, USA)
  1. Public Association of Christ’s Faithful
    • Asosiasi ini didirikan oleh Otoritas Gereja (Kanon pasal 301)
    • Diberi status Juridic Personality (badan juridis)
    • Diberi suatu Canonic Mission (Misi Kanonik) yang sesuai dengan misi keuskupan setempat
    • Anggaran Dasarnya diakui oleh Otoritas Gereja setempat (Kanon pasal 312 -320)
    • Berfungsi dibawah Otoritas Gereja
    • Chaplain yang melayani anggauta-anggauta asosiasi ditunjuk dan diangkat oleh Otoritas Gereja setempat.
    • Diperbolehkan memakai nama “Katolik”Contoh Public Lay Association adalah:
      ICCP yang disahkan Konstitusinya pada tgl. 27 Juli 2014
      Flame Ministries International (pimpinan Eddie Russell)
  1. Third Order atau Ordo Ketiga
    • Asosiasi ini mempunyai affiliasi dengan suatu komunitas religius misalnya ordo Fransiskan, Karmelit, yang disebut Ordo Pertama darinya (Kanon pasal 303) yang anggauta-anggautanya terdiri dari orang awam yang ber-devosi seperti Ordo Pertama nya.
    • Status-nya diakui oleh Otoritas Gereja setempatJelaslah sekarang bahwa suatu Lay Association adalah bentuk organisasi yang paling sesuai yang mewakili seluruh komunitas Katolik di Perth untuk melakukan kegiatan kerasulan awam.

BAGAIMANA DENGAN ICCP

Karena ICCP adalah Public Association of Christ’s Faithful, maka jelaslah batas-batas tentang Hak dan kewajibannya;

Lagipula ICCP merupakan kelanjutan dari WAICC yang dahulu, maka secara struktur organisasi maupun visi dan misi nya secara prinsip tidak ada perubahan.

HAK

  1. Dalam perayaan Misa-misa berbahasa Indonesia dengan kapasitas-nya sebagai pembantu melancarkan penyelengaraan Misa bagi kesejahteraan rohani anggauta ICCP dan masyarakat Indonesia yang lebih luas (Konstitusi ICCP Pasal 4).
  2. Hak melakukan segala kegiatan yang mendukung kegiatan gerejani.
  3. Hak otonom dalam kerja-sama dengan chaplain, untuk mencapai tujuan yang menguntungkan bagi seluruh Umat Katolik Indonesia di Perth.
  4. Hak mengelola keuangan secara mandiri.
  5. Berstatus badan hukum (incorporated).

KEWAJIBAN

  1. Wajib melaporkan semua kegiatan kepada Otoritas Gereja setempat
  2. Tunduk pada semua peraturan yang ditentukan oleh Otoritas Gereja setempat.

AKIBAT DARI HAK DAN KEWAJIBAN TERSEBUT DI ATAS ITULAH, MAKA ICCP DALAM SIFATNYA MEMBANTU PENYELENGARAAN MISA-MISA BERBAHASA INDONESIA, ICCP sama seperti WAICC dahulu HARUS MEMPUNYAI LITURGY COMMITTEE, DAN JUGA R.C.I.A. BERBAHASA INDONESIA.

HARUS DI-INGAT SELALU, ICCP BUKAN PARISH,

MAKA BADAN PENGURUS ICCP BUKAN PARISH COUNCIL.

Perbedaan Lay Association dan Parish

Berbeda sekali status, bentuk dan sifat serta peran kerja suatu badan pengurus Lay Association dengan Parish Council.

Hanya keuskupan setempat yang berwenang mendirikan sebuah parish . Sebab itu Parish Council hanya sebagai Advisor bagi Parish Priest (Pastor Paroki) sebagai wakil Uskup. Parish Council tidak mempunyai wewenang apapun dalam penyelenggaraan Misa, karena itu dalam penyelenggaraan Misa, Pastor Paroki-lah yang mengadakan Liturgy Committee di bawah panduannya. Demikian pula dengan RCIA di dalam Paroki.

Dewan Paroki (Parish Council) juga tidak mempunyai hak mengelola keuangan, sebab pengelolaannya diatur mandiri oleh Parish Finance Committee.

Jadi semua hak pengelolaan sebuah parish atau paroki adalah hak mutlak Pastor Paroki atau Parish Priest.

Adalah wajar bagi orang awam beriman seperti kita ini tidak memahami akan perbedaan Lay Association dengan Parish (Paroki); lagi pula mayoritas dari kita adalah dibaptis dan dibesarkan dalam keimanan Katholik di satu suasana Paroki di Indonesia, yang pengelolaan Paroki ditangani oleh seorang Pastor Paroki dan dibantu oleh satu dewan penasehat, yang dinamakan Dewan Paroki (Parish Council). Ketidak-jelasan ini tidak hanya pada orang awam saja seperti kita, melainkan juga Pastor pun bisa tidak atau kurang memahami tentang organisasi gereja

Pada umumnya inisiatif pendirian suatu Lay Association berasal dari sekelompok orang beriman dan bukan dari Otoritas Gereja. Perkumpulan ini dapat berdiri secara de-fakto tanpa pengakuan resmi dari Keuskupan setempat atau dapat juga kemudian minta pengakuan jika persyaratan-persyaratan tertentu dipenuhi. Seorang Pastor dapat diangkat oleh Uskup menjadi Chaplain (Kapelan) untuk melayani komunitas yang diwakili Lay Association tsb.

 

Status Chaplain

Berbeda dengan Pastor Paroki dengan Dewan Parokinya, maka Chaplain sebagai anggauta Clergy secara kanonik tidak diperbolehkan memegang peranan dalam kepengurusan suatu Lay Association (Kanon 567 par.2), tetapi bertugas melakukan kegiatan pelayanan kerohanian dan pastoral bagi para anggauta dan rekan-rekan ICCP, juga keluarga dan sahabat mereka (Konstitusi ICCP pasal 72). Dalam menjalankan tugasnya Chaplain harus mengikuti peraturan keuskupan Perth tentang tugas Chaplain, peraturan Konperensi Keuskupan Australia dan Hukum Kanon.

 

Liturgy dan RCIA

Pengurus ICCP berhak mendirikan suatu Sub-committee Liturgy dan menunjuk seorang anggauta ICCP untuk menjadi anggauta sub-committee itu ( Konstitusi ICCP pasal 74).

Demikian juga team RCIA-ICCP sebagai bagian dari Sub-committee Liturgy juga dibentuk oleh pengurus ICCP.   Pada hakekatnya team RCIA-ICCP ini adalah merupakan kelanjutan dari RCIA-WAICC yang sudah sejak berdirinya diakui oleh Director of Liturgy & RCIA Office Archdiocese of Perth.

 

ICCP BUKAN DEVOSI MAUPUN MOVEMENT

ICCP tidak berazaskan pada salah satu devosi, pesekutuan atau movement. Itu semua merupakan bagian dari kegiatan-kegiatannya. Oleh karena itu harus dijaga adanya keseimbangan antara berbagai macam kegiatan, sehingga tidak akan menimbulkan kesan adanya dominasi oleh salah satu kegiatan tertentu atau menjadi eksklusif!

Dengan diperolehnya status ICCP sebagai wadah pemersatu yang mewakili mayoritas umat Katolik Indonesia di Perth, ibarat hanya ada satu pohon saja yang memiliki banyak cabang, maka sudah selayaknyalah kalau segala devosi, persekutuan atau movement, dan mudika sebagai suatu organisasi cabang yang bebas, tetapi berada di dalam ICCP.

 

Referensi:

  • Makalah “Lay Association” WAICC Leadership Camp 13-14 Februari 2004
  • ICCP Constitution
  • New Commentary on the Code of Canon Law , 2000 edited by John P. Beal, James A. Coriden, Thomas J. Green
  • Code of Canon Law (1983)
  • Christifideles Laici
  • Konstitusi Dogmatis tentang Gereja
  • Dekrit tentang Kerasulan Awam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desolation and Consolation Seminar

4 July 2012

oleh Sandy Dasuki

Sabtu, 23 Juni 2012. Suatu pagi yang cerah berlangit biru jernih di saat musim dingin menyelimuti daerah Australia Barat, terutama seusai badai yang menerjang hari-hari awal minggu itu merupakan suatu anugerah yang wajib disyukuri. Kendati cuaca yang sedemikian menunjang untuk mengadakan piknik atau liburan bersama teman maupun keluarga di luar rumah, serombongan umat WAICC, anak-anak muda maupun para senior, memadati hall gereja St. Thomas Moore. Ada apa gerangan? Rupanya sebuah seminar tentang Desolasi dan Konsolasi yang diselenggarakan oleh pengurus organisasi menjadi magnet yang menyedot perhatian banyak umat. Pembicaranya tak lain tak bukan adalah seorang Romo dari Kota Malang yang kemampuannya menjadi pembicara dalam berbagai Retreat Katolik sudah tak diragukan lagi, beliau adalah Rm. Cyprianus Verbeek. Yeap! Romo Verbeek yang dilahirkan di negeri kincir angin ini juga menyandang gelar seorang petapa dalam hidup kesehariannya dan pengetahuan beliau mengenai kehidupan doa dan meditasi merupakan alasan yang paling tepat mengapa beliau diundang menjadi Guest Speaker pada seminar ini.

Seminar dibuka dengan gebrakan dua lagu kondang Kristiani yang dibawakan dengan kompak oleh Grup Vokal yang diiringi oleh Oom Michael Tjahjono dengan iringan keyboardnya yang dengan sukses meramaikan sekaligus menghangatkan suasana Hall. Usai puji-pujian, sesi pertama pun dimulai. Romo Verbeek dengan cermat dan ringkas menjelaskan latar belakang dan asal-usul serta sejarah kehidupan beliau dengan disisipi oleh beberapa guyonan khas yang menjadikan topik ini semakin menarik. Seolah menjawab rasa penasaran dalam hati para hadirin tentang apa yang akan mereka dapatkan dari seminar tersebut, Romo pun dengan mantap menjelaskan batas-batas atau scope dari topik yang akan dibicarakan atau apa yang tidak akan didiskusikan. Arti mendalam Desolasi dan Konsolasi dengan lancar beliau utarakan lengkap dengan contoh-contoh konkrit menggunakan realita kehidupan iman para santo-santa dan para martir.

Romo juga menggunakan kutipan-kutipan kisah Alkitabiah mengenai situasi desolasi yang dialami Yesus yakni pada saat Ia berdoa seorang diri kepada Bapa- Nya di taman Getsemani menjelang saat-saat penebusan, atau dalam kisah ketika Yesus menyuruh seorang kaya untuk menjual seluruh harta duniawinya dan mengikut dia setelah orang itu bertanya kepada-Nya bagaimana cara memperoleh kehidupan kekal. Mirip dengan cara Yesus mengajar, Romo Verbeek juga menjelaskan bagaimana cara berdoa dengan menggunakan perumpamaan. Perumpaamaan yang digunakan mengajarkan bahwa supaya kita dapat berdoa kepada Allah satu-satunya, bukan Allah yang kita bayangkan atau kita imajinasikan sedang mendengarkan doa kita, kata-kata seperti nama “Ye-sus” atau “Ma-Ra- Na-Tha” dapat diucapkan berulang-ulang dalam hati untuk menyingkirkan pikiran- pikiran yang berkelebat dalam benak kita ketika berdoa, yang kadang-kadang sangat mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan doa.

Sekitar pukul tiga sore, sesi terakhir telah usai dibawakan. Romo Verbeek mempersilakan bagi para hadirin untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kembali menyegarkan penjelasan romo Verbeek mengenai kehidupan Desolasi para kudus dan juga arti Konsolasi dan doa bagi hidup Kristiani. Sebuah kejadian yang cukup berkesan, belum selesai seorang penyanya menyampaikan pertanyaannya mengenai perbedaan arti desolasi dan konsolasi dalam kehidupan kaum awam dengan para kudus, Romo Verbeek menegaskan ketidaksetujuannya mengenai pembedaan arti konsolasi dan desolasi berdasarkan tingkat iman. Barangkali benar! Saya pun pada awalnya setuju bahwa apa yang dirasakan kaum awam sebagai pengalaman desolasi mungkin dirasakan sebaliknya oleh para kudus. Sungguh pertanyaan yang penting untuk dapat dijawab pada kesempatan itu. Akhirnya, acarapun ditutup dengan doa bersama dan acara membereskan Hall secara gotong royong yang sudah merupakan tradisi kekeluargaan anggota WAICC.

Hakunna Matata! (ENDS)

Foto: Agung Liem

Sedikit Mengenai LIturgi (Bagian Ketiga)

3 July 2012

oleh Iwan G.

Saat imam menjunjung tinggi Tubuh dan Darah Kristus setelah Konsekrasi :

Setelah Konsekrasi, imam akan menjunjung tinggi Tubuh Kristus dan Darah Kristus bergantian diiringi dengan deringan bel, saat itu adalah kesempatan emas bagi umat untuk melakukan Adorasi, ini adalah saat2 yang begitu penting karena Yesus benar2 hadir dalam Ekaristi Kudus diatas Altar. Doa dan puijian kita sungguh powerful pada saat ini walaupun hanya sepatah kata dalam hati seperti “ Oh Allahku, oh Tuhanku, terima kasih” Jadi tataplah Kristus dengan penuh sukacita, seperti ungkapan Scott Hahn yang sangat tepat: Peristiwa surgawi yang terjadi didunia” dan kita sungguh harus penuh dengan rasa syukur karena telah diundang kedalam “perjamuan surgawi –Nya” setelah imam menaruh Tubuh Kristus keatas Altar, maka kita melakukan penghormatan, bersamaan saat imam berlutut.

Postur pada saat doa Bapa Kami:

Ada beberapa komunitas yang biasa bergandengan tangan sewaktu doa Bapa Kami, sebenarnya postur yang benar adalah dengan sikap “Orans” yaitu menyatukan tangan didepan dada seperti postur doa pada umumnya, atau dengan postur “orantes” atau “precantes” yaitu kedua tangan diangkat keatas kearah Tuhan.

Pada saat Doa Bapa Kami, Imam akan mengangkat kedua tangannya keatas, postur ini melambangkan mempersatukan doa seluruh umat dan mempersembahkannya kepada Tuhan.

Sedangkan kalau umat bergandengan tangan, postur ini menunjukan intimacy kepada sesama bukannya rekonsiliasi kepada Tuhan yang sesaat lagi akan kita sambut.

Salam Damai :

Salam damai merupakan suatu tanda sacramental , yaitu tanda kesediaan untuk berekonsiliasi dgn sesama, sebelum kita menerima Tubuh Kristus. ( Rom.16:16; 1 Pet.5:14;) , salam damai ini diberikan kepada sesama umat disekitar kita saja ( depan, belakang, kiri, kanan) dan dilakukan dengan khidmat dan tidak berlebihan dengan menyalami teman2 yang ada dideretan bangku seberang.

Pada saat2 tertentu, imam boleh meniadakan salam damai ini.

Lagu dalam Misa Kudus

Lagu2 dalam Misa Kudus disebut “ sacred song” yang disesuaikan dengan Liturgy, jadi tidak boleh memilih lagu seenaknya tanpa memperhatikan Liturgy. Gereja Katolik memiliki lagu2 Misa Kudus yang sudah ditetapkan sebagai bimbingan. Seperti ucapan St. Agustinus: bernyanyi sama dengan berdoa 2 kali. Jadi didalam Misa Kudus, the Sacred Song haruslah dinyanyikan dengan khidmat karena ditujukan sebagai doa atau pujian kepada Allah, sehingga suara alat music seharusnya dihindarkan dari suara yang terlalu keras sehingga override Nyanyian Kudus-nya, dan jangan sekali-kali pemusik memainkan peralatannya bagaikan performance! Harap diingat, semua umat yg mengikuti Misa Minggu mempunyai hak yang sama untuk menikmati Misa Kudus dengan khidmat.

Siapa yang boleh menerima Komuni?

Komuni dari Ekaristi Kudus, hanya boleh diterima oleh orang yang sudah dibaptis ,sudah diterima oleh Gereja Katolik dan sdh menerima Komuni pertama, juga dalam keadaan kudus. Bagi yang telah berbuat dosa berat, maka harus menerima Sakramen Rekonsiliasi lebih dahulu; bila belum sempat maka ia boleh maju kedepan dengan melipat tangan didada agar mendapatkan blessing saja (ENDS)

The Perfect Storm – ICYO Fellowship

3 July 2012

“The Perfect Storm” sebenarnya adalah sebuah idiom populer di dalam bahasa Inggris yang menggambarkan situasi buruk yang datang bertubi-tubi. Di saat semua tidak berjalan sesuai kehendak kita, seringkali kita hilang arah, mengeluh, putus asa, dan mungkin kita sering menyalahkan Tuhan!

Pada Sabtu 2 Juni lalu, sekumpulan muda-mudi ICYO mengadakan fellowship dengan tajuk ‘The Perfect Storm’, di Sacred Heart Primary School, Highgate. Di kesempatan ini kita berbagi tentang pengalaman iman, merenungkan isi kitab suci bersama, sekaligus menenangkan diri, khususnya untuk teman-teman kita yang akan melaksanakan ujian.

Di dalam kitab Markus 4:35-40, dikatakan bahwa badai menimpa perahu yang ditumpangi para murid dan Yesus sendiri. Para murid pun mulai ‘kelabakan’ dan mencari Yesus, yang ternyata sedang tertidur. Yesus pun menjawab mereka,…

Seringkali kita ragu, galau, bimbang akan keadaan yang kita hadapi, padahal Yesus ada selalu bersama kita!

Hubungan yang indah dengan Yesus adalah kunci dari segala ketakutan kita. Membina hubungan ini seringkali disalahartikan. Hubungan pribadi adalah yang utama, yang disokong oleh hal-hal yang sudah ada di dalam Gereja, misalkan Ekaristi, sakramen tobat, doa, dan sebagainya.

Di dalam kesempatan ini juga, diputar video dari Stronger D-Group program yang dijalankan oleh Keuskupan Sandhurst Victoria bekerja sama dengan Keuskupan Agung Perth. Fr Robert Galea, seorang imam muda, menjelaskan sebuah parable yang indah tentang membina hubungan kita dengan Tuhan yang hidup.

“Ibarat sebuah mawar, kelopak yang indah adalah hubungan kita dengan Yesus, sedangkan batangnya adalah ‘ritual’. Mawar yang indah tidak dapat terjadi kalau tidak ada batang yang menyalurkan makanan dan nutrisi, bukan?”

“Bila Allah ada bersamaku, siapa jadi lawanku?” (ENDS)

Foto: Edward Chitra